Share with Love

Tantangan Level 2 Melatih Kemandirian #hari6

Bismillah,

Halo teman-teman, senang berjumpa lagi di halaman saya ini… Jadi, singkat cerita, saya akan membagikan kisah, bagaimana anak kami banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya di rumah kami. Iya, siang tadi, sekitar pukul 13an, rumah cukup hectic karena ada sekitar tujuh anak (yang juga masih saudara) bermain di rumah kami. Mereka ada yang berusia 1,5 tahun, 5 tahun sampai rentang 9 tahun. Ada 2 anak perempuan dan 5 anak laki-laki. Waah rumah kami sangat ramai dan sibuk.. Alhamdulillah. Saya melihat mereka antusias bermain, segala apa yang ada di sudut kecil rumah kami, dari bermain bola, bersepeda di teras rumah, bermain dough mainan, bubble sabun, mobil-mobilan, dan juga miniatur bus dan lintasannya. Tidak jarang saya mengingatkan untuk tidak berebutan, tentu selalu diusahakan dengan nada yang ramah.

Sewaktu seseorang anak bertanya kepada anak K,

“K, boleh nggak kita main bis tayo nya?” tanya anak S (anak laki-laki usia 7 tahun) meminta ijin kepada anak saya, anak K.

Anak kami pun memberi ijin, dengan menanyakan, “S bisa ngambilnya?” (kebetulan saat itu sedang disimpan di atas lemari mainan.

Lalu satu set bus tayo pun diturunkan dari lemari, dan semua anak yang di dalam ruangan pun sangat antusias ingin merakit mainan tersebut. Entah bagaimana, tiba-tiba sebagian besar anak, seolah berebut ingin yang memegang mainan tersebut. Anak K menjadi panik dan tiba-tiba emosional hampir nangis. Saya dengan nada jelas dan bersuara keras (namun tetap dengan intonasi yang ramah), segera berusaha mengatasi keadaan.

“Boleh, main, tapi harus sabar, ganti-gantian, jangan berebut yaa.., yang pegang mainan, Mas S dulu, karena Mas S yang sudah bisa, yang lain, lihhat dulu yaa..,” kata saya tegas.

Anak kami, K, yang kaget melihat suasana yang cukup heboh, mungkin belum bisa mengendalikan rasanya, kemudian dia menangis keras, sambil berteriak, nggak boleh-nggak boleh… Saya mencari tahu, apa yang sesungguhnya anak saya rasakan, dan apa yang dia inginkan.

“Mas K kenapa menangis?” tanya saya kepada anak K dengan nada ramah.

Sambil tersedu-sedu, berusaha anak K berusaha menjelaskan. Setelah saya telusuri, ternyata dia mengatakan tidak suka melihat teman-temannya saling berebut. Dia menirukan kata-kata saya,

“Boleh main, tapi jangan berebut…” kata anak K.

Sambil terisak-isak, kalimat tersebut diucapkan berulang kali.

Teman-temannya, sesaat melihat anak K menangis pun, langsung menjauh dari mainan tersebut. Saya pun menegaskan, boleh main, tetapi dilarang berebut, anak K membolehkan main, tapi yang anteng, ganti-gantian yaa.. jangan berebut.

Sekira, 3 menit kemudian, anak K sudah tenang dan mempersilahkan anak-anak bermain. Ya Allah, saya merasa bangga kepada sikap anak saya yang baik, mempersilahkan teman-temannya, yang notabene kebanyakan lebih tua dari dia. Kemudian mulailah anak S, merakit mainan tersebut, anak-anak yang lain menyaksikan dahulu. Anak K sudah tenang, dan berbaur kembali dengan teman-temannya..

Sambil menunggu anak S merakit, terlihat anak K sudah ceria dan berinteraksi dengan temannya. Saya mendengar dia berulang kali berkata

“Boleh main, tapi ganti-gantian yaa…jangan berebut,” kata anak K.

Poinnya adalah, anak saya sudah mempraktikkan kemandirian dalam mengungkapkan keinginan. Dengan tegas disampaikan kepada temannya, singkat, padat dan jelas. Saya pun melihat, ketika berbicara dengan teman, anak K selalu melakukan eye contact kepada lawan bicaranya, alhamdulillah, semoga pertanda dia mampu melatih kemandirian dalam berkomunikasi produktif dengan teman-temannya.

Semoga bermanfaat, sampai jumpa kembali.

Share with love

Khoirun Nisaa