Share with Love

Tantangan Level 2 Melatih Kemandirian #hari5

Bismillah,

Pada kesempatan hari ke-5 tantangan Melatih Kemandirian, khususnya untuk anak saya, anak K usia 3,5 tahun, ada tiga hal yang telah terlaksana. Pertama, masih melanjutkan hal yang sedari awal cukup menjadi prioritas yaitu, toilet training khususnya BAB. Kedua, berkaitan dengan kemandirian anak dalam mengungkapkan pendapat dan keinginan dengan bicara yang jelas dan baik. Ketiga, melatih kemandirian mandi.

Untuk hal pertama, yaitu toilet training khususnya BAB, hari ini belum terlalu signifikan perubahan sikap anak saya. Namun saya harus konsisten untuk melatih dan juga memotivasi dia bahwa, BAB, di toilet adalah proses alamiah, yang wajar, dan semua orang harus mengalaminya. Saya tetap mengawali hari dengan mengingatkan dan mempersilahkan anak K pergi ke toilet untuk BAK dan BAB.

“Yuuk ke toilet yuuk, bangun tidur, ke toilet dulu, pipis-pipis dulu, eek-eek dulu, supaya jadi lebih sehat yuuk,” ajak saya sesaat melihat anak K bangun.

Respon anak saat itu, langsung mengatakan, “Nggak kebelet.” Okey, saya masih menjawabnya dengan kalimat mengingatkan kembali bahwa tidak harus kebelet banget baru ke toilet. Maksud hati untuk membuatnya terbiasa dengan ritme BAB sehat. Itu di dalam perut ada sampah yang mau keluar, jadi yuuk beri jalan dia keluar lewat jongkok di WC. Namun lagi-lagi kalimat saya ditolak, anak K cenderung memilih geleng kepala. Baik… saya katakan kepadanya, “Nanti kalau sudah ingin segera ke toilet ya.” Anak K pun menjawab, “Iyaa.” Memang secara hasil, toilet training hari ini belum sukses. Namun saya percaya, dengan konsistennya saya selalu mengingatkan dan mempersilahkan anak untuk rutin ke toilet di pagi hari, saya berharap membuatnya tahu dan paham bahwa ada kegiatan alami yang setiap orang lakukan dan itu sangat wajar, yaitu BAK dan BAB, dengan tata cara yang baik. Jadi tidak boleh patah semangat. Semoga besok hasilnya lebih baik.

Untuk latihan kemandirian yang kedua, yaitu, kemandirian dalam mengungkapkan keinginan. Seperti hari lalu, saya mulai mengamati terjadi perubahan, sikap pada anak saya. Akhir-akhir ini, anak sering tiba-tiba bernada tinggi atau langsung nangis saat mengungkapkan keinginannya. Terkadang tidak sengaja, kami berjumpa dengan anak kecil yang bersikap seperti itu kepada Ibunya. Atau terkadang, mungkin saya kurang tepat memberikan contoh berpendapat kepada anak. Bukan berarti ingin menyalahkan siapapun. Inilah kondisi real yang terjadi. Bahwa anak bisa bertemu dengan banyak orang dengan berbagai macam sikap, yang bukan tidak mungkin akan menjadi referensi anak dalam bertindak. Begitu hal-nya dengan cara mengungkapkan keinginan. Harapan kami, anak kami dapat berbicara dengan baik, tanpa nangis atau teriak, saat akan mengemukakan pendapat, atau mengungkapkan keinginan dan bahkan saat menolak ajakan.

Alhamdulillah pagi tadi kami berkesempatan untuk berbicara pelan-pelan kepada anak yang baru selesai merengek minta mengambil nasi sendiri dari magiccom kepada Mbahnya. Sesaat sesudah reda, saya katakan kepada anak

“Mas K, kalau mau sesuatu, bilangnya yang baik-baik yaa, pelan, tenang, nggak perlu pakai nangis, supaya Bunda lebih mudah mudengnya. Kalau ngomongnya pakai nangis atau teriak, Bunda gak paham maksudnya… okey?” ucap saya dengan intonasi tetap ramah. Sekali lagi respon anak diam dan sedikit mengangguk seperti sedang mendengarkan dengan seksama. Hal konsisten dan memberi teladan serta motivasi harus terus berlaku setiap hari, supaya anak mengerti bahwa apa yang saya inginkan itu, adalah hal yang serius dan benar-benar diperhatikan. Semoga esok ada perkembangan yang baik.

Beralih ke latihan kemandirian yang ke-3 adalah tentang kemandirian dalam mandi. Secara garis besar, anak kami, sudah mau mandi sendiri di kamar mandi. Terutama berendam air hangat sambil mainan air, sabun atau mainan yang sengaja dibawa ke bak mandi. Yang perlu saya latih dengan serius dan dengan penuh perhatian adalah mengenai:

  1. Secara sadar dan teratur, butuh aktivitas mandi untuk menjaga kebersihan/kesegaran dan kesehatan.
  2. Bisa melepas pakaian sendiri
  3. Masuk ke kamar mandi, dan mandi sendiri
  4. Keluar dari kamar mandi dan berhanduk
  5. Berpakaian sendiri.

Sampai dengan saat ini, semua poin di atas, masih belum konsisten keberlangsungannya. Maksudnya, terkadang dengan sekali ajakan, anak sudah mau pergi mandi, namun sering harus dirayu-rayu sampai waktu yang lama untuk dia mau mandi. Satu hal yang sering terjadi akhir-akhir ini, anak kami sudah dengan senang hati berinisiatif membuka baju, celana, dan kaos dalam sendiri sebelum mandi, serta memakai pakaian sendiri sesudah mandi, dengan panduan dan arahan Bundanya. Jadi ke depannya, akan terus dicoba untuk melatih lebih tertata, dan teratur lagi, serta kesadaran bahwa mandi adalah kegiatan yang penting. Semoga berjalan lancar dan dimudahkan Allah, aamiin.

Share with love

Khoirun Nisaa